terbaru

Jumat, 25 Februari 2011

PTDI & EADS Kerjasama Pembuatan Pesawat Casa C295

JAKARTA - PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) kembali bekerjasama dengan pabrikan pesawat asal Eropa, European Aeronautic Defence and Space Company (EADS)-CASA untuk membuat pesawat militer C295.

Direktur Utama PTDI Budi Santoso mengatakan saat ini pihaknya telah siap membuat pesawat C295, dan untuk tahap pertama perseroan membidik proyek pengadaan pesawat di lingkungan TNI.

“Seperti diketahui, TNI ada proyek penggantian pesawat Fokker 27, dan kami membidik proyek tersebut dengan menawarkan pesawat C295. Pembuatan akan dilaksanakan bila kontrak telah diperoleh,” ujarnya, Rabu (23/2).

Menurut Budi Santoso, komponen lokal dalam pesawat C295 lebih dari 40%, sehingga perseroan berpotensi ditunjuk langsung oleh pemerintah. Permodalan akan disediakan oleh EADS, dan PTDI akan mengerjakan pembuatan pesawatnya.

“Untuk profit sharing dengan EADS, kami masih membahasnya. Kerja sama ini kami jalin dengan EADS setelah sebelumnya kedua institusi mengalami kerenggangan hubungan ketika pemerintah Indonesia saat itu tidak melibatkan Cassa dalam proyek N250,” lanjut Budi Santoso.

C295 merupakan pesawat angkut militer yang mampu menjalankan berbagai fungsi, terutama untuk keperluan patroli maritim. Di lingkungan NATO, pesawat ini dilengkapi dengan sistem misil terbaru antikapal selam dan kapal permukaan.

Pesawat ini juga bisa berfungsi sebagai pesawat angkut ringan, yang mampu mengangkut personil militer hingga 70 orang. Sejauh ini pesawat C295 telah dipakai di berbagai negara. NATO menggunakan pesawat ini untuk operasi militer di Irak dan Afganistan.

Budi Santoso mengatakan EADS juga merelokasi pabrik perakitan pesawat Casa 212-400 yang sebelumnya berada di Spanyol. Hal ini lantaran biaya produksi di Eropa jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan di Indonesia.

“Seluruh jig pembuatan pesawat itu kini sudah berada di Bandung. Selain Indonesia di Asia, Casa 212 juga dipakai Thailand dan Vietnam,” katanya.


Sumber : BISNIS.COM

Menhan: TNI Akan Tambah Penjaga di Laut China Selatan

Jakarta - Suhu politik di laut China selatan naik turun. Kementerian Pertahanan akan menambah personel penjaga di pulau-pulau yang terletak di laut China Selatan.

"Ada beberapa pulau lagi yang akan kita tempatkan penjaga. Kan itu pulaunya kecil-kecil dan kita mesti lihat fasilitasnya," ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Hal ini disampaikan Purnomo usai meresmikan pusat riset perbatasan bidang pertahanan di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Rabu (23/2/2011).

Namun penempatan pasukan ini masih terkendala dana. Pemerintah masih fokus melakukan pengamanan pada 12 pulau terluar yang dananya sudah disetujui pada tahun ini.

"Untuk laut China Selatan, kita sedang mempertimbangkan untuk kita tambah. Kita belum tahu 1 2 3 atau 4 pulau. Kita melihat budget juga untuk penempatan pasukan," tambahnya.

Menurut Purnomo, 12 pulau terluar sudah dijaga. Tinggal pulau-pulau kecil yang berada di laut China Selatan. Menurutnya, pulau-pulau ini bernilai strategis.

"Semua pulau kecil terluar sudah ada yang menjaga. Sekarang yang sifatnya strategis," lanjutnya.

sumber: http://www.detiknews..com/read/2011/0...tan?n991101605

Indonesia Lanjutkan Program Pengadaan Kapal Selam Diesel Baru

11.02.2011

Indonesia is on the threshold of definitive decision on what diesel electric submarines to buy for its national navy, reports Jane's Defense Weekly referring to Antara news agency.

According to Indonesia's Chief of Naval Staff Admiral Soeparno, in the nearest time he will negotiate with defense ministry in order to determine the type of diesel subs to be purchased.

Indonesia plans to buy two conventional subs at first, and in the longer view to continue importing submarines. Cost of the first parcel is evaluated as $700 mln. By all appearances, the subs will be bought on credit.

Earlier on, Indonesian Navy presented technical requirements for needed submarines to defense ministry. Currently, the specifications are being analyzed.

In 2009 Indonesian Ministry of Defense invited French, German, Russian, and South Korean companies to compete in the tender, but later the program was shut down due to lack of funds.

Indonesia was expected to issue renewed tender in mid-2010, although the decision was postponed to 2011. As is planned, the first submarine will be built by a tender-winning company. The second sub will be constructed by PT Pal shipyard, Indonesia.

Russia and South Korea are considered leading candidates for delivery of submarines to Indonesia.

Russia offers Project 636 Kilo diesel electric submarine. South Korean Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) is about to present technical documents for two Type-209 diesel electric submarines designed in Germany.

Sumber: http://rusnavy.com/news/othernavies/...EMENT_ID=11458
 

Pemerintah Bangun Pusat Riset Perbatasan di Bidang Pertahanan

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah membangun Pusat Riset Perbatasan di Bidang Pertahanan atau "Center for Defense Boundary Research" untuk menangani semua persoalan perbatasan secara komprehensif.

Pusat penelitian perbatasan itu di berada di bawah naungan Universitas Pertahanan, kata Rektor Universitas Pertahanan Mayjen TNI Syarifuddin Tipe saat peresmian CDBR di Jakarta, Rabu. Ia mengatakan, pembentukan CDBR didasari kompleksnya masalah perbatasan.

"Karena itu memerlukan upaya dari berbagai pihak untuk percepatan penyelesaian masalah yang dihadapi. Pembentukan CDBR merupakan salah satu sumbangsih Unhan yang mengemban tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi," katanya.

Syarifuddin mengakui, meski pemerintah telah memberikan perhatian cukup bagi wilayah perbatasan dan masalahnya, namun terkadang masih bersifat sektoral.

Syarifuddin mengatakan, CDBR memiliki tiga misi, yakni penyelenggaraan riset konsultasi pertanahan, pelatihan atau pertemuan ilmiah, dan jasa basis data atau publikasi.

"Karena itu, CDBR memerlukan kerja sama erat dengan lembaga-lembaga dan para pemangku kepentingan yang terkait dengan perbatasan," katanya.

sumber: http://www.antaranews.com/berita/247...set-perbatasan

Kodam I Bentuk Yon Arhanudse Rudal 13 Dan Yon Armed Roket 2

MEDAN - Komando Daerah Militer I Bukit Barisan menyosilisasikan pokok-pokok pikiran pimpinan Angkatan Darat dalam Rapat Pimpinan yang diiikuti seluruh komandan satuan tempur dan kewilayahan di wilayah Sumatera Bagian Utara di Medan, Rabu.

Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Leo Siegers mengatakan, Rapat Pimpinan (Rapim) itu juga merupakan wahana untuk menyampaikan kebijakan Kodam guna penyusunan program kerja.

Menurut Pangdam, pimpinan TNI-AD telah menetapkan tiga kebijakan untuk mencapai postur TNI sesuai Pembangunan Kekuatan Minimum (Minimum Essential Force/MEF).

Ketiga kebijakan itu adalah pembangunan kekuatan yang meliputi penguatan organisasi, personel, materiil, fasilitas dan pengkalan, jasa dan piranti lunak. Kemudian, kebijakan pembangunan kemampuan meliputi kemampua intelijen, tempur, pembinaan teritorial dan pemberian dukungan bantuan.

Setelah itu, kebijakan gelar satuan yang diarahkan untuk menata dan mengembangkan organisasi, termasuk menambah kekuatan kewilayahan. Kebijakan itu dilakukan dengan memprioritaskan validitas kesatuan Batalyo Artileri Medan (Yonarmed) 2 menjadi Yonarmed Roket 2 yang bermarkas di kawasan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumut.

Demikian juga dengan validasi Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse) 13 menjadi Arhanudse Rudal 13 yang bermarkas di Pekanbaru, Riau.Di akhir tahun, akan dilakukan penilaian tentang tingkat keberhasilan dalam menjalankan pokok-pokok pikiran pimpinan TNI AD, termasuk di jajaran Kodam I Bukit Barisan.

"Nanti, Kasdam I Bukit Barisan Brigjen TNI Murdjito) yang akan mengumumkan, mana yang kurang," kata Mayjen TNI Leo Siegers.

Rapim itu diselenggarakan di Balai Prajurit Makodam I Bukit Barisan yang diikuti seluruh komandan satuan tempur dan kewilayahan dari empat provinsi di wilayah Sumbagut yakni Sumut, Sumbar, Riau dan Kepri.

sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?o...edan&Itemid=27

Daewoo International Dukung Industri Pertahanan Indonesia

Jakarta, DMC – Daewoo International Corporation sebagai perusahaan Korea yang bergerak di bidang perdagangan dan investasi saat ini membawahi tiga anak perusahaan yaitu Daewoo International Corporation, Daewoo Engineering & Construction Company Limited serta Daewoo Corporation. Daewoo International Corporation tumbuh dan berkembang, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi satu payung dengan Posco yang merupakan perusahaan ketiga terbesar didunia dalam pembuatan besi baja sejak Oktober 2010.

Daewoo International Corporation yang mengedepankan misinya untuk menjadi perusahaan kelas dunia di bidang perdagangan, investasi dan pengembangan menyampaikan keinginannya untuk mendukung industri pertahanan Indonesia. Hal tersebut disampaikan Vice Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) Daewoo International Corporation Korea (South) Lee, Dong-Hee saat bertemu dengan Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, S.Ip., M.A, Rabu (23/2), di kantor Kemhan, Jakarta. Dalam pertemuan singkat tersebut, Sekjen Kemhan selaku wakil Menhan RI didampingi oleh Kabadan Ranahan Kemhan Laksda TNI Susilo.

Selain itu, pihak Daewoo mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang telah dibangun selama ini dengan pemerintah Indonesia. Pihak Daewoo juga menyampaikan bahwa perusahaan Daewoo International telah mengembangkan sayapnya di bidang pengembangan pendidikan dengan mendirikan institut keuangan (finance institute). Kepada Sekjen, Vice Chairman juga menyampaikan bahwa perusahaan Daewoo International saat ini tidak lagi bergerak dalam bidang perdagangan (trade) tetapi lebih fokus bergerak di bidang keuangan termasuk diantaranya bidang leasing.

Seperti dijelaskan Sekjen bahwa minggu lalu PT Krakatau Steel melakukan kerjasama dengan Posco dalam penyediaan raw material untuk membuat kapal laut bermuatan besar karena PT Krakatau Steel sendiri untuk saat ini belum dapat memproduksi plat besar untuk jenis kapal laut.

Menurut Sekjen Posco untuk saat ini masih menjadi satu-satunya perusahaan yang memproduksi plat besar untuk jenis kapal laut. Untuk itu Sekjen berharap Posco juga dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lokal lainnya seperti Koja Bahari.

Ditambahkan Sekjen bahwa saat ini juga pemerintah Indonesia masih menjalin hubungan dan kerjasama dengan pemerintah Korea khususnya dalam pembuatan kapal Landing Platform Dock (LPD) yang sempat tertunda lebih dari setahun. (ER/SR)

sumber: http://www.dmc.kemhan.go.id/index.ph...anan&Itemid=64

CMI Defence Akan Kirim 22 Buah CSE-90 Ke Indonesia Pada 2013

At the International Defence Exhibition of Abu Dhabi, the Belgian Company CMI Defence presents its complete full scale Cockerill CT-CV Weapon System (advanced 105 mm) and its new Gun Launched Anti-Tank Guided Missile, The Falarick 105.

Through this state-of-the-art turret , CMI Defence will demonstrate to visitors its innovative approach to their high level of embedded technologies, these weapon systems not only supply the ultimate firepower for light and medium weight armoured vehicles, but also meet constantly changing operational needs thanks to their versatile and permanently evolutive qualities.

Thanks to its experience in quality weapon system design and manufacture CMI Defence increases its international reputation through the signing of two new international contracts. By 2013, CMI Defence will deliver 22 new CSE90 systems to Indonesia and 84 new LCTS90 to Saudi Arabia.

Between 2000 and 2003, CMI Defence already delivered 144 LCTS90 weapon systems to Saudi Arabia which are currently being modernized. Saudia Arabia keeps its trust in CMI Defence products through the acquisition of 84 LCTS90 weapon systems that are to be installed on General Dynamics Land Systems Canada (GDLS-C)’s Piranha vehicle.

Regarding the contract with Malaysia, the CSE90 weapon system will be installed on Doosan’s 6x6 Tarantula (also named Black Fox) built by South Korean company Daewoo International.

The performances of the CMI Defence Weapons systems have been further enhanced by incorporating sub-systems of the latest generation including electro-mechanical drives and modern day/night sight with laser range finder and ballistic computer. Its single stage muzzle brake allows the firing of APFSDS-T ammunition. Secondary armament includes coaxial and pintle-mounted 7.62 mm machine gun and grenade launchers.

All the conception and manufacturing is taking place in CMI Defence’s new facilities in Loncin (Belgium) while integration of the turrets on the Tarantula vehicles will take place in South Korea. First deliveries are expected for 2013.

sumber: http://www.armyrecognition.com/idex_...abia_idex.html